Kisah Legenda Sang Raja Kretek : Mengulas Buku Sang Raja Karya Iksaka Banu
![]() |
| Cover Depan Buku Sang Raja |
Hello, Bie!
Kali ini saya akan mengulas sebuah buku yang ceritanya cukup menarik. Berlatarkan Kota Kudus yang mempunyai sejarah panjang tentang rokok kretek. Saya akan mencoba tidak untuk terlalu spoiler dalam mengulas buku ini. Stay tune! |
Buku ini berjudul Sang Raja yang ditulis oleh Iksaka Banu, dengan panjang halaman berjumlah 396. Kebetulan saya membacanya di Ipusnas. Buku ini diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Tahun 2017 yang disunting oleh editor bernama Pax Benedanto.
~
Sang Raja mengisahkan sebuah cerita berlatar waktu di saat Indonesia belum merdeka. Di mana warga bumiputra masih digolongkan sebagai warga negara kelas tiga. Wirosoeseno, Priayi asal Jawa dan Filipus Rechterhand si Belanda totok merantau ke Kota Kudus. Mereka dipertemukan oleh nasib di sebuah pabrik rokok kretek besar yang mempunyai ribuan buruh. Berbagai peristiwa mereka lalui di pabrik itu. Asam, manis, pahit pun tidak mengenal kata menyerah.
Disanalah mereka menyaksikan seorang priayi rendah yang sedang mengalami puncak kejayaan yang dikenal sebagai 'De Koning', Sang Raja Rokok Kretek, Nitisemito.
Perkenalan tokoh Nitisemito di halaman pertama membuat saya yakin bahwa orang ini bukan orang biasa. Orang besar, orang yang mempunyai kedudukan dan kehormatan yang disegani oleh masyarakat. Dititik ini saya ingin tahu lebih lanjut, maka saya melanjutkan membaca. Pembuka yang cukup bagus.
Memasuki tengah halaman, belum ada POV Nitisemito. Di sini masih menceritakan Wirosoeseno dan Filipus. Pun alur masih terkesan datar. Maksud datar di sini konflik belum masuk. Walaupun begitu, saya masih menikmatinya. Kenapa? Karena topik yang disuguhkan cukup menarik. Kebetulan saya suka sejarah, di buku ini sejarahnya kental sekali. Mungkin karena itu saya masih duduk manis membacanya. Dinamika alur tidak melulu sejarah, balik lagi cerita ini menceritakan pabrik rokok kretek. Tentu saja pembahasan bisnis pun tak terelakkan. Disinilah topik berkembang lebih jauh dan lebih menarik.
Disebutkan bahwa laku tidaknya sebuah produk tergantung seberapa hebat eksekusi pemasaran. Terbukti di buku ini. Saya sangat menyukai bagian ini. Setiap ada pembahasan pemasaran, selalu antusias. Pemikiran-pemikiran maju datang dari pabrik ini. Terobosan baru terus digaungkan. Bisa saya bilang, mereka inilah pencetus ide pemasaran yang brilian dan out of the box. Terutama apa yang terjadi pada pesawat Fokker. Saya sampai tertawa saking tidak percayanya. Selain itu juga komedi tipis yang kadang membuat tawa kecil tersemat.
Konflik dimulai. Keadaan mulai bergejolak. Tahap demi tahap eskalasi konflik semakin besar. Saya sebetulnya sudah mengira masalahnya akan seperti ini. Setelah saya sadar bahwa sejarah yang tertulis di buku itu fakta, saya menyeletuk, "awas ada Jepang". Terbukti benar ternyata celetukan random saya. Tapi tidak semua berhubungan dengan sejarah, ada juga yang lain, seperti cerita Akoean Markoem dan Karmain. Intrik politik tidak terlalu besar porsinya. Tapi tetap memengaruhi jalan cerita. Menurut saya hampir semua masalah yang ada tidak membuat efek kejut, hanya mengalir saja.
Ada beberapa typo yang untungnya cuma sedikit dan tidak terlalu berpengaruh ketika saya membaca.
Di setiap tokoh memang ada sifat plus dan minus. Tapi baru kali ini saya merasakan berbagai emosi kepada para tokoh. Penulis bisa membawa kita pada keadaan suka dan tidak suka dalam satu waktu. Contoh pada tokoh Wirosoesono. Saya suka dengan sikanya yang pintar dan bisa membawa diri, tapi di beberapa menit setelahnya saya jadi kurang simpatik karena sikap gegabah. Begitu cepat pergantian emosi yang saya rasakan.
Sebut saja saya udik atau apa tapi saya baru mengetahu kalau Nitisemito itu tokoh nyata. Saat itu saya langsung syok sejadi-jadinya. Saya termenung cukup lama karena tidak mungkin kisah itu kisah nyata. Dimulai dari hebatnya Nitisemito menjalankan dan mengarahkan perusahaan atau betapa briliannya seorang Karmain yang selalu mempunyai terobosan gila di pemasaran. Pantas saja Nitisemito bisa dikenal dan dihormati banyak orang.
Menuju akhir halaman, akhirnya saya sadar penyebab tidak ada POV dari Nitisemito karena berhubungan dengan bab awal. Pun kalau diadakan POV itu akan mengubah keseluruhan cerita. Padahal part itu yang saya tunggu sejak membaca buku ini. Tapi tidak apa-apa buku Sang Raja tidak mengurangi esensi dan tetap mempunyai nilai tersendiri untuk saya pribadi.
Nitisemito bisa dijadikan suri tauladan bagi kita semua terutama dalam hal memimpin. Di buku ini, Nitisemito tampil dengan cemerlang terlepas dari isu-isu yang menimpanya. Memikirkan perusahaan agar tetap berjalan memang penting, tapi yang lebih penting adalah memikirkan hak para buruh. Jangan sampai keputusan perusahaan merugikan para karyawan. Beliau bisa melakukan keduanya. Tidak timpang sebelah. Kolaborasi yang baik, akan menciptakan hasil yang bagus.
Nah begitulah ulasan dari saya mengenai buku Sang Raja. Mungkin buku ini bisa ada spin-off yang khusus membahas Nitisemito ya Pak Iksaka hehe. Juga saya jadi penasaran tentang buku yang lain dari Pak Iksaka. Tunggu ulasan lain dari saya ya Bie, ciao!

Komentar
Posting Komentar